Info Terbaru

HPDKI Kecamatan Cidolog dan Pranajaya Farm Bangun Pusat Pengolahan Pupuk Organik, Wujudkan Integrasi Pertanian dan Peternakan Berkelanjutan



Cidolog, Ciamis – Upaya membangun sistem pertanian dan peternakan yang terintegrasi terus dilakukan oleh Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Kecamatan Cidolog bersama Pranajaya Farm. Melalui kolaborasi tersebut, keduanya tengah mengembangkan Pusat Pengolahan Pupuk Organik Kecamatan Cidolog yang akan menampung dan mengolah kotoran kambing serta domba dari anggota HPDKI menjadi pupuk organik bernilai ekonomi tinggi.


Program ini merupakan inisiatif Haji Endi Pranajaya, Owner Pranajaya Farm sekaligus Wakil Ketua HPDKI Kecamatan Cidolog, yang melihat besarnya potensi limbah peternakan sebagai sumber daya produktif yang dapat mendukung sektor pertanian sekaligus meningkatkan pendapatan peternak.


Menurut Haji Endi Pranajaya, selama ini sebagian besar peternak hanya memperoleh pendapatan dari penjualan ternak, sementara limbah peternakan yang dihasilkan belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, kotoran kambing dan domba memiliki kandungan unsur hara yang sangat baik untuk mendukung budidaya pertanian, terutama tanaman pangan dan hortikultura.


“Melalui program ini kami ingin membangun ekonomi sirkular di tingkat peternak dan petani. Kotoran ternak yang sebelumnya dianggap limbah akan diolah menjadi pupuk organik berkualitas yang dapat dimanfaatkan kembali untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian,” ujarnya.


Dalam pelaksanaannya, anggota HPDKI dari berbagai desa di Kecamatan Cidolog akan mengumpulkan kotoran ternak untuk kemudian dikirim ke pusat pengolahan pupuk organik. Setelah melalui proses fermentasi dan pengolahan sesuai standar, pupuk tersebut akan dipasarkan kepada petani maupun digunakan untuk mendukung kegiatan budidaya pertanian anggota.


Yang menarik, konsep yang dikembangkan Pranajaya Farm tidak hanya berhenti pada pengolahan pupuk organik, tetapi juga menerapkan sistem integrasi pertanian dan peternakan (Integrated Farming) yang memanfaatkan hubungan saling menguntungkan antara tanaman dan ternak.


Pranajaya Farm saat ini mengembangkan budidaya jagung sebagai salah satu komoditas utama. Daun dan limbah tanaman jagung hasil panen dimanfaatkan sebagai pakan kambing dan domba yang dipelihara oleh kelompok peternak. Selanjutnya, kotoran ternak yang dihasilkan akan diolah kembali menjadi pupuk organik untuk digunakan pada lahan jagung. Dengan demikian tercipta siklus produksi yang berkelanjutan dan minim limbah.


“Daun jagung menjadi pakan ternak, kemudian kotoran ternaknya kembali menjadi pupuk untuk tanaman jagung. Ini adalah bentuk nyata pertanian dan peternakan yang saling mendukung. Kami ingin menunjukkan bahwa peternakan dan pertanian tidak bisa dipisahkan, justru harus dibangun dalam satu sistem yang terintegrasi,” jelas Haji Endi.


Konsep tersebut dinilai mampu menekan biaya produksi petani dan peternak sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya lokal. Selain mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, sistem ini juga mendukung perbaikan kualitas tanah dan menjaga keberlanjutan lingkungan.


HPDKI Kecamatan Cidolog berharap pusat pengolahan pupuk organik ini dapat menjadi pusat ekonomi baru bagi para peternak. Selain memperoleh pendapatan dari hasil penjualan ternak, anggota HPDKI juga berpotensi mendapatkan nilai tambah dari penjualan bahan baku pupuk organik maupun keterlibatan dalam rantai usaha pengolahan pupuk.


Program ini juga diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan daerah melalui penyediaan pupuk organik berkualitas serta mendukung pengembangan pertanian ramah lingkungan di Kabupaten Ciamis. Ke depan, pusat pengolahan pupuk organik tersebut direncanakan menjadi sentra produksi pupuk organik tingkat kecamatan yang mampu melayani kebutuhan petani di berbagai wilayah.


Melalui kolaborasi antara HPDKI Kecamatan Cidolog dan Pranajaya Farm, model integrasi pertanian dan peternakan ini diharapkan menjadi contoh pengembangan ekonomi perdesaan yang berkelanjutan, dimana limbah tidak lagi menjadi masalah, melainkan sumber daya yang mampu menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.

Tidak ada komentar